Sumber Daya Air Kita: Kekayaan yang Terlupakan

Baru- baru ini media mendapatkan pernyataan dari BMKG bahwa banyak daerah di Indoensia akan mengalami kekeringan. BMKG menyatakan bahwa musim hujan baru akan datang pada bulan Oktober.

Bagi sebagian kita, masyarakat kota yang selalu mendapatkan pasokan air bersih mungkin merasa biasa saja dengan berita tersebut. Namun mungkin kita tidak sadari bahwa bagi sebuah masyarakat, baik desa, kota bahkan sampai skala nasional akan sangat membutuhkan air dengan kualitas yang baik untuk menunjang kehidupan masyarakatnya.

Bukti nyata menunjukkan bagaimana peradaban jaman dahulu berkembang karena sumber daya air yang terkontrol. Seperti Mesir dengan Sungai Nilnya, Cina dengan Sungai Kuningnya, dan di Indoensia sendiri ada Majapahit dengan Bengawan Solo dan Brantasnya.

Dalam tulisan ini saya hanya sedikit ingin berbagi tentang pengalaman saya kemarin mengenai betapa pentingya air bagi perkembangan peradaban masyarakat.

Yang pertama adalah ketika saya mudik ke kota asal saya di Dampit, sebuah kota kecil di selatan Kota Malang yang mungkin di peta saja tidak ada nama kota tersebut. Kota kecil ini hidup dari hasil pertaniannya. Ketika hasil pertanian baik, maka perekonomian daerah ini akan baik, begitu pula sebaliknya ketika hasil pertanian daerah ini buruk maka perekonomian akan buruk juga, perekonomian di sini saya lihat dari skala pasar, yang berarti indikatornya adalah daya beli masyarakat. Saya mengerti ini karena keluarga saya memilik latar belakang di pertanian dan perdagangan.

Ketika sampai di rumah, keluarga saya bercerita bahwa perekonomian di Kota ini sedang tidak baik, maklum karena hasil pertanian selama tiga musim berturut-turut gagal, yang pertama dan kedua karena hama, sedangkkan yang ketiga karena kekeringan.

Yang kedua ketika saya berada di rumah kakek saya yang berada di Kota Kencong, sebuah kota kecil di selatan lumajang. Sama halnya dengan kota Dampit, Kencong merupakan daerah yang bergantung ada hasil pertaniannya. Nasib kota ini selama tiga musim panen pun juga sama, gagal akibat hama dan kekeringan.

Yang ketiga adalah` ketika Kuliah Umum mengenai Hydrology and Enviromental, dengan pembicara adalah Pak Mundzir seorang lulusan Teknik Sipil ITB yang melanjutkan studinya di Kanada, dan sekarang beliau berdomisili di negeri tersebut.

Dalam kuliah umum tersebut, beliau menceritakan bagaimana pentingnya pengelolaan siklus air, terutama menjaganya supaya kualitas air tersebut baik sehingga bisa dinikmati masyarakat potensinya. Bahkan sebuah Ibu Kota provinsi di sana mampu menghasilkan banyak sekali PLTA yang kemudian bisa memberikan energi listriknya ke seluruh negeri, bahkan negeri tetangganya,  Paman Sam juga menikmati energi listrik tersebut.

Yang paling miris yang saya saksikan baru-baru ini adalah apa yang saya lihat di media elektronik kemarin, saat orang-orang kebingungan karena air bersih sangat sulit didapat, bahkan ada masyarakat di daerah Pacitan yang terpaksa mengambil air dari sebuah empang yang ternyata sangat kotor, kemudian masyarakat tersebut memindahkan air tersebut untuk kemudian disaring di tanah yang lebih bersih sehingga mereka mendapatkan air bersih yang mereka inginkan, padahal saya sendiri meragukan kualitas air tersebut secara kimiawi dan biologis, bisa jadi air tersebut mengandung zat kimia berbahaya dan banyak bakteri.

Pada akhirnya di sini pemerintah sebagai pemimpin masyarakat yang harus dipertanyakan kapabilitasnya terhadap pengelolaan sumber daya yang dimiliki Indonesia. Pasalnya negeri ini kerap dilanda musibah akibat air baik pada musim penghujan ataupun pada musim kemarau. Pada musim penghujan masyarakat terkena banjir, sebaliknya musim kemarau menjadi bencana kekeringan. Padahal curah hujan di Indonesia terbilang cukup tinggi dibandingkan negara-negara lain yang lebih maju, selain itu wilayah perairan Indonesia kurang lebih 2/3 dari wilayah daratannya.

***
Saya berharap tulisan ini mampu merubah cara pandang kita terhadap kekayaan kita miliki. Sumber daya alam akan menjadi kekayaan kita jika kita mampu mengelolanya dengan bijak. Analoginya seperti anak kecil yang diberi uang. Jika ia tidak memiliki kemampuan untuk mengelolanya, pasti uang itu digunakan untuk hal-hal yang tidak penting, namun ketika habis belum pada waktunya ia akan kebingungan. Namun jika ia bisa mengelolanya dengan baik, maka bisa jadi uang itu akan ia investasikan sehingga dapat memberikan nilai lebih dari yang pertama ia dapatkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petuah Bijak - Dewa 19

Bye.. 2012

Muslim, Part 1

Mahram Itu...

Metamorph My Self